Pengetahuan Bagi Sang Istri Muda

Thursday, April 26, 2012


Atasan : “Apa sih susahnya ngomong? Ditelpon susah, diajak rapat susah?!”
Staf       : “Aku punya Istri muda!!!” (Nah Lho?!!)
Percakapan di atas terinspirasi dari salah satu iklan provider terkemuka, bukannya saya berniat promosi, namun saya menganggap kalimat pembuka di atas dapat menjadi pengantar bagi tulisan saya kali ini. Istri muda, mungkin sebutan ini terdengar tabu bagi kalangan para istri. Apalagi istri muda sering dijadikan julukan bagi istri kedua, istri ketiga maupun istri keempat walaupun mungkin usia mereka jauh lebih tua dari istri pertama. Namun yang saya maksud disini bukan istri kedua dan seterusnya, melainkan istri yang usianya belasan dan masih disebut sebagai remaja. Mereka biasanya akan jauh lebih sulit diatur dan terkesan manja sehingga dalam cuplikan diatas staf kantor harus rela ditegur oleh atasannya.
Dewasa ini banyak sekali gadis yang menikah
pada usia muda, apalagi bagi mereka gadis-gadis desa yang memang jarang sekali mengenyam pendidikan tinggi karena factor ekonomi bahkan karena telah dijodohkan oleh orang tuanya. Bagi sebagian orang, menikah muda merupakan hal yang wajar. Memang hal tersebut tidak salah, mengingat merupakan tugas orang tua agar putrinya tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Sehingga orang tua berupaya menyelamatkan kehidupan putrinya
dengan segera menikahkan mereka. Namun tak dapat dipungkiri dengan mengenyampingkan pendidikan masa depan bangsa terancam, melahirkan di usia muda  sangat rentan terhadap resiko bayi lahir cacat selain itu dapat menyebabkan ledakan penduduk.
Awalnya saya tidak begitu responsif terhadap kenyataan ini, akan tetapi jika keadaan terus berlanjut bagaimana nasib bangsa dimasa depan? Disinilah pendidikan memegang peranan penting. Pendidikan merupakan proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam masyarakatnya. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh sesuatu lingkungan yang terpimpin (khususnya di sekolah) sehingga ia dapat mencapai kecakapan sosial dan mengembangkan kepribadiannya (Good 1977). Setidaknya istri muda harus diberi pendidikan dasar mengenai peran dan kontribusi mereka terhadap bangsa. Sehingga mereka akan sadar bagaimana seharusnya mereka berpikir dan berprilaku dengan status mereka sebagai seorang istri walaupun dalam usia yang masih muda.  Lalu siapa yang berkepentingan memberikan pemahaman pentingnya pendidikan? Itulah fungsi kita sebagai mahasiswa. Sebagai social control, yang menyampaikan kebenaran mengenai fakta pentingnya pendidikan, sebagai agent of change yang merupakan agen perubahan, merubah pola pikir istri muda yang kekanak-kanakan dan iron stock sebagai generasi penerus bangsa. Masih kurangkah alas an-alasan mengapa kita perlu memberikan pendidikan kepada para istri muda?
Setelah kita mengetahui betapa pentingnya pendidikan bagi istri muda, sekarang kita bertanya bagaimana cara kita melakukannya? Jawabannya seperti yang pernah diutarakan oleh Aa Gym dengan 3 M-nya. Pertama mulai dari diri sendiri, bukan berarti kita sebagai wanita menjadi istri muda, tapi mulailah dengan menjadikan diri kita sebagai pendidik sukarelawan. Kedua mulailah dari hal yang kecil, untuk menyelenggarakan pendidikan kita tidak perlu terlalu merasa repot dengan fasilitas perkuliahan yang harus ada, cukup dengan bicara, duduk melingkar pendidikan sudah dapat tersampaikan. Dan yang terakhir mulai dari sekarang. Ada banyak sekali para istri muda yang membutuhkan pendidikan, yang berarti ada banyak pahala dan manfaat yang bisa kita peroleh. Jadi untuk apa menunggu lebih lama lagi? Mari bergerak sebagai mahasiswa.

0 comments:

Post a Comment