"Manjadda Wajada”
Itulah bunyi kalimat sakti
dari novel Negeri 5 Menara. Ya, novel karangan Anwar Fuadi yang belum lama ini
diangkat sebagai film dan sedang booming di
pasaran. Ahh, belum sempat Aku untuk sekedar pergi ke bioskop dan nonton film yang sedang ramai
dibicarakan ini. Kepalaku masih penat dengan berbagai tugas yang tak
henti-hentinya memanggil untuk segera diselesaikan. Deadline. Aku selalu
mengerjakan tugas-tugas itu di batas akhir pengumpulan, bahkan teman-teman
memanggilku dengan julukan “deadliners”. Julukan yang terdengar aneh dan
sedikit menjengkelkan, karena secara tidak langsung mereka mengecapku sebagai
pemalas,yaa, tapi itulah teman-teman ku, aku tahu julukan yang mereka berikan
padaku merupakan tanda sayang mereka padaku. Seorang mahasiswi tingkat akhir yang
senang mengerjakan tugas dalam deadline.
Aku tinggal disebuah rumah
yang berukuran standar bagi lingkungan di sekitarku. Rumahku hanya dihuni oleh
empat orang, ayah, Aku, ibu, dan adik tiriku. Aku memang mempunyai ibu dan adik
tiri, tapi kami hidup rukun dan damai. Terkadang Aku selalu membandingkan
hidupku dengan film. Setelah banyak nonton film, Aku menarik kesimpulan bahwa
sebagian besar dari mereka alay dalam bercerita. Cerita yang alay memang lebih
disukai daripada cerita yang datar.
Mungkin hidupku termasuk kategori yang datar-datar
saja dan
bahagia sepanjang waktu. Bahkan ketika orang tua kandungku bercerai
aku masih sangat kecil hingga tidak mengingat apa yang menyebabkan perceraian
mereka. Tidak sedikitpun terekam konflik psikis maupun fisik yang mungkin dapat
memicu perceraian mereka. Aku akhirnya tinggal bersama ayahku. Agak aneh memang,
karena biasanya di film-film, anak yang masih dibawah umur itu selalu ikut
dengan ibunya. Sebagai anak yang baik Aku tak ingin mengungkit-ungkit masalah
tersebut pada ayahku. Apalagi kini ayah sudah menikah dengan ibuku yang baru, “mama”
begitulah Aku memanggil wanita itu. Mereka menikah saat usiaku 9 tahun. Seperti
yang ku ceritakan tadi, Aku hidup bahagia tanpa ada sedikit pun kekerasan dalam
rumah tangga.
Pagi ini, seperti biasanya
dan tak pernah dilewatkan ialah sarapan bersama. Setiap pagi wajib bagiku dan
adikku Salwa untuk stand by di meja
makan dan sarapan. Begitulah, dengan saling meluangkan waktu sarapan bersama,
kehidupan keluargaku selalu berjalan harmonis. Meja makan ini saksinya, meja
makan persegi dengan empat buah kursi yang ditata dua-dua saling berhadapan, di
meja inilah tempat nasi dan lauk pauk bikinan mama bertengger. Seperti biasa
aku mengambil tempat disamping Salwa yang sudah duduk manis dengan seragam
putih birunya.
“Ciee yang udah rapi, masih
zaman ya sekolah pagi.” Godaku
“Masih dong, kan biar bangun
pagi terus MANDI dulu sebelum sarapan.” Jawabnya.
“Yee biarin, masuk kuliahnya
siang kok!” Sanggahku
“Ihh pokoknya Kakak jorok,
belum mandi udah sarapan, jorok, jorok,!” Ejeknya.
Jadilah kami saling mengejek
di meja makan.
“Kalian ini berisik sekali,
jaga sikap di meja makan!” Ujar Ayah dengan nada membentak.
Aku dan Salwa saling
berpandangan. Kami heran dengan sikap ayah yang tidak seperti biasa. Jika kami
berdua ribut di meja makan mama yang akan melerai, ayah biasanya hanya senyum-senyum
saja. Tapi tidak dengan pagi ini, wajah ayah nampak memerah menahan rasa
jengkel, mama juga kulihat hanya tertunduk. Akhirnya kami makan dalam
keheningan pagi yang mencekam, sungguh tidak biasa.
“Sudah selesai Salwa? Ayah
sedang buru-buru, ayo cepat jika mau diantar ke sekolah” Ujar Ayah.
Salwa kemudian cepat-cepat
meminum segelas susu yang ada dihadapannya dan bergegas mengikuti langkah ayah,
tinggal Aku dan mama di meja makan.
“Habiskan sarapanmu” Ucap
mama dengan nada datar sambil pergi ke dapur.
Aku semakin tidak mengerti,
biasanya mama selalu berbicara dengan senyum menghiasi wajahnya, apa yang
sebenarnya terjadi? Secepatnya kuhabiskan nasi goreng buatan mama kemudian
menyusulnya ke dapur.
“Kenapa ma? Ada yang salah
dengan kata kata Najwa sama Salwa ya sampai ayah marah?” Ucapku.
“Bukan salah kalian, ayah
sedang banyak pikiran. Maafkan dan maklumi saja ayahmu.” Ujarnya.
Aku semakin tak mengerti
dengan apa yang terjadi di keluarga ku
“Ma..” Lanjutku
“Sudahlah bereskan bekas
makan tadi dan cepat mandi.” Jawab Mama.
Aku pun pergi mandi dan
bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Masih bingung dengan sikap ayah dan
mama yang tidak biasa. Karena pikiranku sedang galau, ku putuskan untuk naik
kendaraan umum saja. Kuarahkan langkahku ke halte yang tak jauh dari rumah. Sejak
langkah pertama ku keluar dari pekarangan aku merasa ada yang memperhatikanku. Aku deg-degan, kayak di film-film takut terjadi apa-apa.
Tapi Aku coba tetap berkhusnudzon, dan santai menunggu bis datang.
Seorang wanita mendekat
kepadaku, secara tiba-tiba Ia memelukku erat, Aku bingung siapa wanita ini? Begitu
berhasil memelukku, wanita berpakaian serba hitam lengkap dengan kacamata hitam
ini menangis sejadi-jadinya. Aku kaget sekali. Ada perasaan yang aneh hinggap
di hati ku, perasaan ini nyaman, ya Allah, siapa wanita ini??
Secara kebetulan, mama
keluar dari rumah, seketika itu pula Ia melihatku tengah dipeluk oleh wanita
asing. Mama tampak tergesa-gesa datang menghampiri dan melepaskan Aku dari
pelukkan wanita itu.
“Lepaskan anakku!” teriak
Mama.
“Anakmu? Kau pikir kau
siapa? Berani-beraninya kau mengakui Najwa sebagai anakmu, ingat statusmu hanya
IBU TIRI!” Sahut wanita tadi.
Aku kaget, darimana wanita
asing ini tahu mengenai status mama?
“Iya, Aku memang ibu tiri
bagi Najwa, tapi Aku telah membesarkan dan menyayangi Najwa seperti anakku
sendiri.” Jawab Mama.
“Pembohong kamu! Hanya
klise, setiap orang tahu bagaimana orang yang disebut ibu tiri.” Teriak wanita
tadi.
Mereka terus saja bertengkar,
hingga mengundang perhatian masyarakat sekitar. Aku semakin merasa kebingungan,
mengetahui para tetangga mulai berdatangan, mama langsung menarikku kembali kerumah.
Aku semakin tidak mengerti
dengan kejadian hari ini, ayah marah, mama mendadak emosi, wanita asing itu,
siapa? Apa yang terjadi?
Setibanya dirumah mama
terlihat semakin gelisah, ia mondar madir diruang tamu tanpa sedikitpun memberi
penjelasan kepadaku, ia juga terlihat menghubungi seseorang, Aku tahu pasti itu
ayah.
Setelah selesai menelpon,
mama langsung menghampiriku.
“Najwa, jangan sekali-kali
kamu mendekati wanita asing tadi!” Ujarnya.
“Memangnya kenapa?” Tanyaku.
“Ah sudahlah jangan banyak
tanya, ikuti saja apa kata Mama, kenapa kamu jadi anak pembangkang seperti ini
hah?!” Jawab Mama membentak.
“Siapa yang jadi pembangkang
sih Ma? Aku kan cuma tanya kenapa? Kalau Mama ngga mau jawab juga ngga apa apa,
Mama ngga perlu bentak-bentak Aku kayak gitu, Aku udah cukup dewasa untuk
mengerti, tak perlu dibentak!” Jawabku panjang lebar.
Jawaban itu meluncur saja
dari bibirku, Aku masih shock dengan bentakan mama, disisi lain aku juga ingin
membela diri dari tuduhan mama tentang anak pembangkang.
Mama terlihat kaget dengan
jawabanku barusan, Ia terlihat shock. Aku langsung merasa tak enak hati
“Ma..”
“Pergi ke
kamarmu sekarang!” perintah Mama.
Sekali lagi terdengar
sebagai sebuah bentakkan bagiku. Aku menjadi semakin kesal, hari ini Aku telah
dibentak oleh kedua orang tua ku, 3 kali berturut-turut. Aku akhirnya masuk dan
membanting pintu kamar. Aku semakin berpikir, hal apa yang bisa menyebabkan
kedua orang tua ku marah-marah?
Ku dengar suara mobil ayah
datang, disusul dengan suara klakson mobil yang meminta dibukakan pintu gerbang
garasi. Ayah pulang, ku intip dari jendela kamarku, nampak mama berbicara
serius dengan ayahku, mereka kemudian masuk kedalam rumah. Seperti yang sudah
ku perkirakan mereka mendekati kamarku.
“Najwa, ayo keluar, Ayahmu
ingin bicara.” Terdengar suara Mama memanggil.
Aku masih terdiam, rasanya
tanganku terlalu berat untuk sekedar membuka pintu kamar.
“Najwa ayo keluar, Ayah
tunggu di ruang keluarga!” Ucap Ayah.
Mendengar suara ayah yang
berat dan agak bergetar menahan amarah, Aku pun merasa takut dan berniat keluar
dari kamar. Kubuka pintu kamar dengan perlahan, kulihat Ayah tengah duduk di
sofa, di sebelahnya ada mama. Mereka yang mendengar suara pintu kamarku yang
terbuka langsung menoleh ke arahku.
Aku pun duduk di seberang
ayah dan mama. Hening sejenak dan nampaknya percakapan ini akan sulit untuk
diawali.
“Wanita yang tadi kau temui
itu” Ucap Ayah mengawali pembicaraan “Adalah ibu kandungmu” lanjutnya.
Serasa mendengar petir di
siang bolong, Aku terbelalak. Ibu? Apa Aku tak salah dengar? Ibu kandungku? Ibu
yang selama ini tak pernah sedikit pun hadir dalam hidupku? Ibu yang selama ini
bahkan tak pernah ku tahu wajahnya? Ibu yang selama siang dan malam di hidupku
selalu bermimpi tentangnya? Ibu, sungguh sosok yang kurindukan. Walaupun ada
mama, tapi rasanya tetap berbeda. Seketika itu juga rasa rindu tak tertahankan
muncul dan menyesakkan dadaku, aku menyesal kenapa tadi siang tidak
berlama-lama untuk memeluknya, kenapa tadi siang aku malah membiarkan air mata
menetes di pipinya, kenapa aku tak sadar bahwa ia adalah ibu yang telah
melahirkanku, kenapa ia datang setelah lama berpisah denganku? Dan mengapa mama
melarangnya untuk bertemu denganku? Antara sedih dan bahagia berbagai
pertanyaan muncul di kepalaku.
Melihat gelagatku yang
demikian, ayah langsung bercerita mengenai wanita tadi. Ia bercerita bahwa
wanita asing tadi yang tidak lain adalah ibuku baru seminggu kembali setelah 20
tahun meninggalkan kota ini. Meninggalkan Aku dan ayahku tepatnya. Tak ada
penjelasan mengapa ibu meninggalkan kami, yang ayah tahu bahwa ibu pergi ke
luar negeri untuk memenuhi ambisinya dan menelantarkan Aku yang saat itu masih
harus disusui. Sungguh menyedihkan mendengar semua cerita itu, mengapa ibu bisa
setega itu padaku? Mengapa ibu tidak mengajakku bersamanya? Mengapa ia baru
datang sekarang? Kemana saja ia dulu? Beragam pertanyaan kembali muncul di
benakku.
“Ayah tidak ingin wanita itu
kembali menyakitimu Najwa, sudah cukup ia menelantarkanmu diwaktu dulu, bagi
Ayah semua sudah berakhir sejak ia memutuskan untuk pergi meninggalkanmu. Dan
Ayah telah berjanji bahwa itulah terakhir kalinya kau disakiti oleh wanita
itu.” Jelas Ayah.
Aku akhirnya mengerti
mengapa ayah dan mama melarangku untuk menemui wanita tadi. Karena mereka
terlalu menyayangiku, karena mereka ingin menjagaku, karena mereka tak ingin
aku tersakiti lagi. Betapa besar cinta ayah dan mama kepadaku, apalagi mama. Ia
yang bahkan seorang ibu tiri begitu mempedulikanku, lalu bagaimana dengan ibu
kandungku? Ya Allah, haruskah aku berprasangka buruk pada ibu kandungku
sendiri? Ingin rasanya bulir-bulir air mata ini jatuh membasahi pipi. Namun Aku
tak mau, aku tak ingin air mata ini jatuh untuk hal yang belum Aku ketahui
permasalahannya, Aku tak ingin menangis untuk orang yang tak kutahui asal
usulnya, walaupun ia ibuku, sekarang ia tampak sebagai orang asing bagiku.
Ibu.. Mengapa engkau bisa setega
itu padaku?
Esok paginya, sarapan yang
biasanya meriah kini menjadi suram. Semua orang tertunduk, tak terkecuali Aku.
Satu per satu mulai meninggalkan meja makan. Begitupun Aku, Aku berangkat ke
kampus pagi ini.
Walaupun hari ini tak ada
kuliah, Aku hanya ingin menyegarkan otak dan pikiranku dari kepenatan sejak
kemarin. Mataku menatap kosong, jauh ke depan, hingga aku tak menyadari ada
yang menghampiriku.
“Najwa” Ucapnya
Aku kaget, ketika Aku
menoleh orang yang duduk disampingku tak lain adalah wanita yang kemarin
kutemui di halte.
“Najwa sayang” Ucapnya lagi,
Ia tengah berusaha
untuk memelukku, tapi Aku menolak.
“Apa yang Anda lakukan?
Siapa Anda? Kenapa Anda tiba-tiba ingin memeluk saya?” Ucapku ketus.
“Aku, Aku ibumu Nak,..”
“Tidak, Aku tidak percaya,
bagaimana mungkin ada seorang ibu yang
tega meninggalkan anak yang masih disusuinya hanya untuk mencapai
ambisinya? Bagaimana mungkin seorang ibu bisa tahan tidak bertemu anaknya
berpuluh-puluh tahun? bagaimana mungkin seorang ibu rela membiarkan anaknya
diasuh dan dibesarkan orang lain? Saya yakin Anda bukan ibu Saya.” Jawabku.
Wanita itu tampak menangis,
air mata kembali membasahi pipinya. Ya Allah, Aku tak tega melihat linangan air
mata kembali bergulir di wajah wanita itu, hatiku terasa sakit, betapa teganya
Aku pada dirinya ya Rabb. Aku tak sanggup membiarkan wanita itu menangis
mendengar kata-kata ku yang menusuk relung hatinya. Aku tak kuasa menahan
diriku, Aku sungguh merindukannya, aku selalu menunggu kehadirannya. Tapi
mengapa setelah engkau mengirimnya kembali padaku, Aku malah menyakitinya? Aku
tak tega melihat wanita itu menangis. Seketika itu pula Aku memeluk wanita itu,
tangis yang kusimpan semalaman akhirnya mengalir dari pipiku, Wanita itu
kembali memelukku erat.
Disela-sela tangisnya Ia
meminta maaf padaku, ia juga menceritakan mengapa ia pergi dulu. Ia mengakui
bahwa ia telah menelantarkan aku, dan ia sangat menyesal karenanya. Aku bisa
menerima semua penjelasannya. Aku hanya seorang anak, bagaimana mungkin Aku
tega membenci ibuku sendiri karena masa lalu yang telah ia perbuat. Setelah
puas bercerita, aku berpamitan pulang pada ibu.
Di rumah, ayah dan mama
telah menungguku, Aku bercerita kepada mereka mengenai pertemuanku dengan ibu
tadi pagi. Tak kusangka respon ayah sangat tidak suka. Ia malah memberiku
pilihan jika aku masih menemui ibuku.
“Sekarang tinggal pilih, jangan
pernah temui wanita itu lagi dan tetap tinggal disini atau silakan kamu pergi
bersamanya dan tinggalkan kami!” Tukas Ayah.
Aku kaget dengan pilihan
yang diberikan oleh ayah. Aku tentu tak bisa memilih, lantas akuminta izin
masuk ke kamar. Terlalu lelah dengan semua kejadian hari ini, aku pun tertidur.
Di sepertiga malam terakhir aku terbangun. Saat yang tepat untukku berkeluh
kesah pada-Nya. Selesai shalat dan berdoa, aku kemudian membaca Al-Quran tepat
surat Luqman, aku menangis,
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang
ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.
Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah
kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu
yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti
keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan
orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka
Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (
QS. Luqman: 14-15)
Aku menangis sejadi-jadinya.
Aku tahu tak dapat memilih salah satu dari kedua orang tuaku, mereka sama-sama
menyayangiku, Aku bertekad menjelang wisudaku, Aku akan mendamaikan mereka,
hingga mereka akan hadir berdampingan, ya deadline tugas baru, sebelum wisudaku.
Tapi bagaimana caranya ya
Rabb??
Tak sengaja kulirik novel
Negeri 5 Menara yang telah kubaca, impianku untuk mendamaikan ketiga orang
tuaku dapat tercapai, aku yakin. Kalimat sakti Manjadda wajada merupakan pembakar semangat Alif dan sahibul
menara, Aku yakin kalimat sakti ini pula yang akan menjadi pengobar semangatku.
Ya Allah, ku niatkan malam ini untuk mengerjakan tugasku, tugas yang harus
selesai sebelum aku wisuda, inilah sebuah deadline kasihku.
0 comments:
Post a Comment