Deadline Kasihku

Saturday, April 28, 2012


"Manjadda Wajada”
Itulah bunyi kalimat sakti dari novel Negeri 5 Menara. Ya, novel karangan Anwar Fuadi yang belum lama ini diangkat sebagai film dan sedang booming di pasaran. Ahh, belum sempat Aku untuk sekedar pergi  ke bioskop dan nonton film yang sedang ramai dibicarakan ini. Kepalaku masih penat dengan berbagai tugas yang tak henti-hentinya memanggil untuk segera diselesaikan. Deadline. Aku selalu mengerjakan tugas-tugas itu di batas akhir pengumpulan, bahkan teman-teman memanggilku dengan julukan “deadliners”. Julukan yang terdengar aneh dan sedikit menjengkelkan, karena secara tidak langsung mereka mengecapku sebagai pemalas,yaa, tapi itulah teman-teman ku, aku tahu julukan yang mereka berikan padaku merupakan tanda sayang mereka padaku. Seorang mahasiswi tingkat akhir yang senang mengerjakan tugas dalam deadline.
Aku tinggal disebuah rumah yang berukuran standar bagi lingkungan di sekitarku. Rumahku hanya dihuni oleh empat orang, ayah, Aku, ibu, dan adik tiriku. Aku memang mempunyai ibu dan adik tiri, tapi kami hidup rukun dan damai. Terkadang Aku selalu membandingkan hidupku dengan film. Setelah banyak nonton film, Aku menarik kesimpulan bahwa sebagian besar dari mereka alay dalam bercerita. Cerita yang alay memang lebih disukai daripada cerita yang datar.
 Mungkin hidupku termasuk kategori yang datar-datar saja dan
bahagia sepanjang waktu. Bahkan ketika orang tua kandungku bercerai aku masih sangat kecil hingga tidak mengingat apa yang menyebabkan perceraian mereka. Tidak sedikitpun terekam konflik psikis maupun fisik yang mungkin dapat memicu perceraian mereka. Aku akhirnya tinggal bersama ayahku. Agak aneh memang, karena biasanya di film-film, anak yang masih dibawah umur itu selalu ikut dengan ibunya. Sebagai anak yang baik Aku tak ingin mengungkit-ungkit masalah tersebut pada ayahku. Apalagi kini ayah sudah menikah dengan ibuku yang baru, “mama” begitulah Aku memanggil wanita itu. Mereka menikah saat usiaku 9 tahun. Seperti yang ku ceritakan tadi, Aku hidup bahagia tanpa ada sedikit pun kekerasan dalam rumah tangga.
Pagi ini, seperti biasanya dan tak pernah dilewatkan ialah sarapan bersama. Setiap pagi wajib bagiku dan adikku Salwa untuk stand by di meja makan dan sarapan. Begitulah, dengan saling meluangkan waktu sarapan bersama, kehidupan keluargaku selalu berjalan harmonis. Meja makan ini saksinya, meja makan persegi dengan empat buah kursi yang ditata dua-dua saling berhadapan, di meja inilah tempat nasi dan lauk pauk bikinan mama bertengger. Seperti biasa aku mengambil tempat disamping Salwa yang sudah duduk manis dengan seragam putih birunya.
“Ciee yang udah rapi, masih zaman ya sekolah pagi.” Godaku
“Masih dong, kan biar bangun pagi terus MANDI dulu sebelum sarapan.” Jawabnya.
“Yee biarin, masuk kuliahnya siang kok!” Sanggahku
“Ihh pokoknya Kakak jorok, belum mandi udah sarapan, jorok, jorok,!” Ejeknya.
Jadilah kami saling mengejek di meja makan.
“Kalian ini berisik sekali, jaga sikap di meja makan!” Ujar Ayah dengan nada membentak.     
Aku dan Salwa saling berpandangan. Kami heran dengan sikap ayah yang tidak seperti biasa. Jika kami berdua ribut di meja makan mama yang akan melerai, ayah biasanya hanya senyum-senyum saja. Tapi tidak dengan pagi ini, wajah ayah nampak memerah menahan rasa jengkel, mama juga kulihat hanya tertunduk. Akhirnya kami makan dalam keheningan pagi yang mencekam, sungguh tidak biasa.
“Sudah selesai Salwa? Ayah sedang buru-buru, ayo cepat jika mau diantar ke sekolah” Ujar Ayah.
Salwa kemudian cepat-cepat meminum segelas susu yang ada dihadapannya dan bergegas mengikuti langkah ayah, tinggal Aku dan mama di meja makan.
“Habiskan sarapanmu” Ucap mama dengan nada datar sambil pergi ke dapur.
Aku semakin tidak mengerti, biasanya mama selalu berbicara dengan senyum menghiasi wajahnya, apa yang sebenarnya terjadi? Secepatnya kuhabiskan nasi goreng buatan mama kemudian menyusulnya ke dapur.
“Kenapa ma? Ada yang salah dengan kata kata Najwa sama Salwa ya sampai ayah marah?” Ucapku.
“Bukan salah kalian, ayah sedang banyak pikiran. Maafkan dan maklumi saja ayahmu.” Ujarnya.
Aku semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi di keluarga ku
“Ma..” Lanjutku
“Sudahlah bereskan bekas makan tadi dan cepat mandi.” Jawab Mama.
Aku pun pergi mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Masih bingung dengan sikap ayah dan mama yang tidak biasa. Karena pikiranku sedang galau, ku putuskan untuk naik kendaraan umum saja. Kuarahkan langkahku ke halte yang tak jauh dari rumah. Sejak langkah pertama ku keluar dari pekarangan aku merasa ada  yang memperhatikanku. Aku deg-degan, kayak di film-film takut terjadi apa-apa. Tapi Aku coba tetap berkhusnudzon, dan santai menunggu bis datang.
Seorang wanita mendekat kepadaku, secara tiba-tiba Ia memelukku erat, Aku bingung siapa wanita ini? Begitu berhasil memelukku, wanita berpakaian serba hitam lengkap dengan kacamata hitam ini menangis sejadi-jadinya. Aku kaget sekali. Ada perasaan yang aneh hinggap di hati ku, perasaan ini nyaman, ya Allah, siapa wanita ini??
Secara kebetulan, mama keluar dari rumah, seketika itu pula Ia melihatku tengah dipeluk oleh wanita asing. Mama tampak tergesa-gesa datang menghampiri dan melepaskan Aku dari pelukkan wanita itu.
“Lepaskan anakku!” teriak Mama.
“Anakmu? Kau pikir kau siapa? Berani-beraninya kau mengakui Najwa sebagai anakmu, ingat statusmu hanya IBU TIRI!” Sahut wanita tadi.
Aku kaget, darimana wanita asing ini tahu mengenai status mama?
“Iya, Aku memang ibu tiri bagi Najwa, tapi Aku telah membesarkan dan menyayangi Najwa seperti anakku sendiri.” Jawab Mama.
“Pembohong kamu! Hanya klise, setiap orang tahu bagaimana orang yang disebut ibu tiri.” Teriak wanita tadi.
Mereka terus saja bertengkar, hingga mengundang perhatian masyarakat sekitar. Aku semakin merasa kebingungan, mengetahui para tetangga mulai berdatangan,  mama langsung menarikku kembali kerumah.
Aku semakin tidak mengerti dengan kejadian hari ini, ayah marah, mama mendadak emosi, wanita asing itu, siapa? Apa yang terjadi?
Setibanya dirumah mama terlihat semakin gelisah, ia mondar madir diruang tamu tanpa sedikitpun memberi penjelasan kepadaku, ia juga terlihat menghubungi seseorang, Aku tahu pasti itu ayah.
Setelah selesai menelpon, mama langsung menghampiriku.
“Najwa, jangan sekali-kali kamu mendekati wanita asing tadi!” Ujarnya.
“Memangnya kenapa?” Tanyaku.
“Ah sudahlah jangan banyak tanya, ikuti saja apa kata Mama, kenapa kamu jadi anak pembangkang seperti ini hah?!” Jawab Mama membentak.
“Siapa yang jadi pembangkang sih Ma? Aku kan cuma tanya kenapa? Kalau Mama ngga mau jawab juga ngga apa apa, Mama ngga perlu bentak-bentak Aku kayak gitu, Aku udah cukup dewasa untuk mengerti, tak perlu dibentak!” Jawabku panjang lebar.
Jawaban itu meluncur saja dari bibirku, Aku masih shock dengan bentakan mama, disisi lain aku juga ingin membela diri dari tuduhan mama tentang anak pembangkang.
Mama terlihat kaget dengan jawabanku barusan, Ia terlihat shock. Aku langsung merasa tak enak hati
“Ma..”
“Pergi ke kamarmu sekarang!” perintah Mama.
Sekali lagi terdengar sebagai sebuah bentakkan bagiku. Aku menjadi semakin kesal, hari ini Aku telah dibentak oleh kedua orang tua ku, 3 kali berturut-turut. Aku akhirnya masuk dan membanting pintu kamar. Aku semakin berpikir, hal apa yang bisa menyebabkan kedua orang tua ku marah-marah?
Ku dengar suara mobil ayah datang, disusul dengan suara klakson mobil yang meminta dibukakan pintu gerbang garasi. Ayah pulang, ku intip dari jendela kamarku, nampak mama berbicara serius dengan ayahku, mereka kemudian masuk kedalam rumah. Seperti yang sudah ku perkirakan mereka mendekati kamarku.
“Najwa, ayo keluar, Ayahmu ingin bicara.” Terdengar suara Mama memanggil.
Aku masih terdiam, rasanya tanganku terlalu berat untuk sekedar membuka pintu kamar.
“Najwa ayo keluar, Ayah tunggu di ruang keluarga!” Ucap Ayah.
Mendengar suara ayah yang berat dan agak bergetar menahan amarah, Aku pun merasa takut dan berniat keluar dari kamar. Kubuka pintu kamar dengan perlahan, kulihat Ayah tengah duduk di sofa, di sebelahnya ada mama. Mereka yang mendengar suara pintu kamarku yang terbuka langsung menoleh ke arahku.
Aku pun duduk di seberang ayah dan mama. Hening sejenak dan nampaknya percakapan ini akan sulit untuk diawali.
“Wanita yang tadi kau temui itu” Ucap Ayah mengawali pembicaraan “Adalah ibu kandungmu” lanjutnya.
Serasa mendengar petir di siang bolong, Aku terbelalak. Ibu? Apa Aku tak salah dengar? Ibu kandungku? Ibu yang selama ini tak pernah sedikit pun hadir dalam hidupku? Ibu yang selama ini bahkan tak pernah ku tahu wajahnya? Ibu yang selama siang dan malam di hidupku selalu bermimpi tentangnya? Ibu, sungguh sosok yang kurindukan. Walaupun ada mama, tapi rasanya tetap berbeda. Seketika itu juga rasa rindu tak tertahankan muncul dan menyesakkan dadaku, aku menyesal kenapa tadi siang tidak berlama-lama untuk memeluknya, kenapa tadi siang aku malah membiarkan air mata menetes di pipinya, kenapa aku tak sadar bahwa ia adalah ibu yang telah melahirkanku, kenapa ia datang setelah lama berpisah denganku? Dan mengapa mama melarangnya untuk bertemu denganku? Antara sedih dan bahagia berbagai pertanyaan muncul di kepalaku.
Melihat gelagatku yang demikian, ayah langsung bercerita mengenai wanita tadi. Ia bercerita bahwa wanita asing tadi yang tidak lain adalah ibuku baru seminggu kembali setelah 20 tahun meninggalkan kota ini. Meninggalkan Aku dan ayahku tepatnya. Tak ada penjelasan mengapa ibu meninggalkan kami, yang ayah tahu bahwa ibu pergi ke luar negeri untuk memenuhi ambisinya dan menelantarkan Aku yang saat itu masih harus disusui. Sungguh menyedihkan mendengar semua cerita itu, mengapa ibu bisa setega itu padaku? Mengapa ibu tidak mengajakku bersamanya? Mengapa ia baru datang sekarang? Kemana saja ia dulu? Beragam pertanyaan kembali muncul di benakku.
“Ayah tidak ingin wanita itu kembali menyakitimu Najwa, sudah cukup ia menelantarkanmu diwaktu dulu, bagi Ayah semua sudah berakhir sejak ia memutuskan untuk pergi meninggalkanmu. Dan Ayah telah berjanji bahwa itulah terakhir kalinya kau disakiti oleh wanita itu.” Jelas Ayah.
Aku akhirnya mengerti mengapa ayah dan mama melarangku untuk menemui wanita tadi. Karena mereka terlalu menyayangiku, karena mereka ingin menjagaku, karena mereka tak ingin aku tersakiti lagi. Betapa besar cinta ayah dan mama kepadaku, apalagi mama. Ia yang bahkan seorang ibu tiri begitu mempedulikanku, lalu bagaimana dengan ibu kandungku? Ya Allah, haruskah aku berprasangka buruk pada ibu kandungku sendiri? Ingin rasanya bulir-bulir air mata ini jatuh membasahi pipi. Namun Aku tak mau, aku tak ingin air mata ini jatuh untuk hal yang belum Aku ketahui permasalahannya, Aku tak ingin menangis untuk orang yang tak kutahui asal usulnya, walaupun ia ibuku, sekarang ia tampak sebagai orang asing bagiku.
Ibu.. Mengapa engkau bisa setega itu padaku?
Esok paginya, sarapan yang biasanya meriah kini menjadi suram. Semua orang tertunduk, tak terkecuali Aku. Satu per satu mulai meninggalkan meja makan. Begitupun Aku, Aku berangkat ke kampus pagi ini.
Walaupun hari ini tak ada kuliah, Aku hanya ingin menyegarkan otak dan pikiranku dari kepenatan sejak kemarin. Mataku menatap kosong, jauh ke depan, hingga aku tak menyadari ada yang menghampiriku.
“Najwa” Ucapnya
Aku kaget, ketika Aku menoleh orang yang duduk disampingku tak lain adalah wanita yang kemarin kutemui di halte.
“Najwa sayang” Ucapnya lagi,
Ia tengah berusaha untuk  memelukku, tapi Aku menolak.
“Apa yang Anda lakukan? Siapa Anda? Kenapa Anda tiba-tiba ingin memeluk saya?” Ucapku ketus.
“Aku, Aku ibumu Nak,..”
“Tidak, Aku tidak percaya, bagaimana mungkin ada seorang ibu yang  tega meninggalkan anak yang masih disusuinya hanya untuk mencapai ambisinya? Bagaimana mungkin seorang ibu bisa tahan tidak bertemu anaknya berpuluh-puluh tahun? bagaimana mungkin seorang ibu rela membiarkan anaknya diasuh dan dibesarkan orang lain? Saya yakin Anda bukan ibu Saya.” Jawabku.
Wanita itu tampak menangis, air mata kembali membasahi pipinya. Ya Allah, Aku tak tega melihat linangan air mata kembali bergulir di wajah wanita itu, hatiku terasa sakit, betapa teganya Aku pada dirinya ya Rabb. Aku tak sanggup membiarkan wanita itu menangis mendengar kata-kata ku yang menusuk relung hatinya. Aku tak kuasa menahan diriku, Aku sungguh merindukannya, aku selalu menunggu kehadirannya. Tapi mengapa setelah engkau mengirimnya kembali padaku, Aku malah menyakitinya? Aku tak tega melihat wanita itu menangis. Seketika itu pula Aku memeluk wanita itu, tangis yang kusimpan semalaman akhirnya mengalir dari pipiku, Wanita itu kembali memelukku erat.
Disela-sela tangisnya Ia meminta maaf padaku, ia juga menceritakan mengapa ia pergi dulu. Ia mengakui bahwa ia telah menelantarkan aku, dan ia sangat menyesal karenanya. Aku bisa menerima semua penjelasannya. Aku hanya seorang anak, bagaimana mungkin Aku tega membenci ibuku sendiri karena masa lalu yang telah ia perbuat. Setelah puas bercerita, aku berpamitan pulang pada ibu.
Di rumah, ayah dan mama telah menungguku, Aku bercerita kepada mereka mengenai pertemuanku dengan ibu tadi pagi. Tak kusangka respon ayah sangat tidak suka. Ia malah memberiku pilihan jika aku masih menemui ibuku.
“Sekarang tinggal pilih, jangan pernah temui wanita itu lagi dan tetap tinggal disini atau silakan kamu pergi bersamanya dan tinggalkan kami!” Tukas Ayah.
Aku kaget dengan pilihan yang diberikan oleh ayah. Aku tentu tak bisa memilih, lantas akuminta izin masuk ke kamar. Terlalu lelah dengan semua kejadian hari ini, aku pun tertidur. Di sepertiga malam terakhir aku terbangun. Saat yang tepat untukku berkeluh kesah pada-Nya. Selesai shalat dan berdoa, aku kemudian membaca Al-Quran tepat surat Luqman, aku menangis,
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. ( QS. Luqman: 14-15)
Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tahu tak dapat memilih salah satu dari kedua orang tuaku, mereka sama-sama menyayangiku, Aku bertekad menjelang wisudaku, Aku akan mendamaikan mereka, hingga mereka akan hadir berdampingan, ya deadline tugas baru, sebelum wisudaku.
Tapi bagaimana caranya ya Rabb??
Tak sengaja kulirik novel Negeri 5 Menara yang telah kubaca, impianku untuk mendamaikan ketiga orang tuaku dapat tercapai, aku yakin. Kalimat sakti Manjadda wajada merupakan pembakar semangat Alif dan sahibul menara, Aku yakin kalimat sakti ini pula yang akan menjadi pengobar semangatku. Ya Allah, ku niatkan malam ini untuk mengerjakan tugasku, tugas yang harus selesai sebelum aku wisuda, inilah sebuah deadline kasihku.

0 comments:

Post a Comment