Wanita Indonesia Masa Kini Yang Berkarakter Keadilan Senyum Penuh Pesona Pancarkan Inner Beauty

Thursday, May 03, 2012



Pernahkah Anda melihat seorang polisi wanita yang tengah memegang senjata untuk melumpuhkan penjahat yang sedang dihadapinya? Pernahkah Anda melihat seorang ustadzah di sebuah TKA yang sedang mengajarkan shalawat badar kepada murid-muridnya?  Bagaimana kesan anda ketika melihat kedua sosok wanita itu? Apakah hal yang sama terlintas di benak anda ketika melihat mereka? Jawabannya bisa sangat bervariatif. Jika saya yang ditanya apa yang terlintas di benak saya ketika melihat kedua sosok wanita itu, tentu jawabannya akan berbeda. Ketika melihat seorang polwan yang ada di benak saya ialah tangguh, gagah, berani, kesannya casual.  Sedangkan ketika saya melihat seorang ustadzah, yang terlintas ialah senyum, lembut, hangat dan tulus, kesannya feminim. Lho kok beda ya?  Padahal masih sama-sama wanita. Nah, hal itu lah yang merupakan  hasil dari penggambaran karakter.
Setiap manusia tentunya memiliki karakter masing-masing, hal tersebutlah  yang menjadi pembeda antara manusia yang satu dengan manusia yang lain.  Karakter adalah budi budi pekerti yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling) dan tindakan (action). Untuk itu terdapat karakter standar universal/umum yang berlaku secara umum yang dikaitkan dengan syarat keberhasilan, meliputi kepercayaan, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, keterbukaan dsb. Sifat-sifat tersebut seperti memiliki daya tarik magnet untuk diidamkan dan dimiliki. Pembentukan karakter tidak terlepas dari  lingkungan keluarga, tempat tinggal hingga profesi. Seperti dalam gambaran pendahuluan tadi, di Indonesia ada banyak sekali profesi yang dijalani oleh seorang wanita terlepas dari kehidupannya sebagai ibu rumah tangga. Namun yang perlu di ingat kembali, seorang wanita tidak boleh sampai lupa akan kewajibannya terhadap anak dan keluarganya.
Profesi seseorang dapat mempengaruhi pembentukan karakter yang terlihat. Misalnya tadi, profesi seorang polwan menggambarkan karakter yang tegas, tangguh, berani sedangkan profesi Ustadzah lebih menunjukan karakter lembut, dan ramah. Banyak profesi yang menimbulkan berbagai karakter  berbeda. Dari semua karakter yang kini melekat pada wanita, setiap wanita pasti  wanita tetap memiliki sebuah predikat yakni cantik. Cantik juga merupakan suatu karakter. Kecantikan itu bukan hanya yang tampak dari fisik tapi yang paling sering dibicarakan dan dicari karena termasuk hal yang langka ialah inner beauty atau kecantikan dari dalam.
Inner beauty dapat diartikan sebagai intangible power (kekuatan yang tidak nampak secara fisik). Inner beauty merupakan energi dari sebuah kecantikan yang akan membuat
seseorang terlihat cantik meskipun secara fisik tidak memenuhi kriteria cantik alias biasa-biasa saja. Energi yang melahirkan kecantikan sejati dan alami, energi yang bersumber dari kedalaman hati. Energi yang dihasilkan inner beauty seperti energi matahari. Memancarkan aura positif dan menciptakan daya tarik alami yang menyebar ke seluruh penjuru tubuh dan wajah. Menumbuhkan kepribadian yang baik dan unik. Mengembangkan sikap dan perilaku yang menarik, menghadirkan rasa nyaman dan tentram setiap orang di dekatnya, sehingga terbentuk suatu karakter yang kuat dan menarik.
Pada hakikatnya inner beauty bukan merupakan kecantikan bawaan yang dimiliki seseorang sejak lahir. Inner beauty merupakan sebuah proses pembelajaran kepribadian yang bisa dilatih, dan bisa dimiliki semua orang. Karena itu, kita bisa melatihnya dalam praktik kehidupan sehari-hari dengan mengaplikasikan tiga energi inner beauty yaitu motivasi, kepercayaan diri, dan ketulusan hati. Ketiga energi ini dapat dikatakan sebagai the real energy of beauty yang bisa menarik energi-energi positif lainnya dari diri kita, terutama rasa bahagia. Seseorang yang memiliki inner beauty mamiliki motivasi yang kuat dan tidak akan mudah menyerah pada keadaan juga kelemahan dirinya. Justru kelemahan dan kekurangan dirinya itulah yang memotivasinya untuk tetap terlihat cantik dengan apa yang ia miliki. Ia tampil percaya diri, dengan segala kelebihan yang dimilikinya dan tidak merasa rendah diri mengetahui dan mengakui kelemahannya. Dengan ketulusan hati ia tetap berusaha mewujudkan kemauannya, tetap memupuk rasa bahagianya dengan apa yang ia punya, sehingga mampu berpikir positif dan optimis dalam setiap aktivitasnya.
Salah satu cara yang dapat menunjukan inner beauty ialah dengan tersenyum. Senyum yang tulus dan ikhlas mempesona memancarkan inner beauty sang pemiliknya. Tersenyum, betapa mudahnya hal ini dilakukan.  Hanya butuh sedetik untuk merubah bentuk bibir menjadi senyum.  Dan hanya butuh tujuh detik mempertahankan sang senyum untuk terlihat sebagai ungkapan ketulusan hati. Senyum merupakan anugrah dari Allah SWT yang sengaja diciptakan untuk memperindah manusia. Sehingga penampilannya secara keseluruhan terlihat lebih menarik. Memang tak dapat dipungkiri, pesona pada diri seseorang seringkali bersumber dari fisik. Artinya anda yang berwajah ganteng, cantik, bertubuh proporsional plus ditunjang pakaian dan penampilan yang keren, akan terlihat menarik. Tapi pesona lahir seperti ini akan luntur manakala tidak didukung oleh pesona dari dalam. Pesona dari dalam itu antara lain intelektual dan perilaku menyangkut etiket dan tata krama menghadapi orang lain. Senyum yang tulus dapat memancarkan cahaya hati dan inner beauty kita, memberi kesan hangat dan ramah. Tersenyum mampu mendekatkan perasaan dan menumbuhkan ikatan kasih sayang yang mengeratkan hubungan hati. Tersenyumlah, karena dengan senyum akan terpancar kecantikan berenergi dari dalam hati yang penuh ketulusan, energi positif tulah inner beauty.
Bangsa Indonesia yang dari dulu terkenal dengan keramahtamahannya merupakan suatu bukti nyata akan melekatnya karakter kuat dari masyarakat. Murah senyum dan ramah dalam menyambut tamu merupakan salah satu karakter kuat bangsa kita. Namun jangan salah, banyak juga orang yang salah mengartikan senyuman yang diberikan. Sebagai seorang wanita, sebaiknya kita menjaga diri dari hal hal yang berlebihan. Hal ini juga berkaitan dengan pembentukan karakter seorang wanita, tadi saya menyebutkan bahwa tersenyum yang tulus dan ikhlas dapat menjadi sebuah magnet tersendiri. Oleh karena itulah wanita harus berhati-hati dalam memberikan senyuman. Dalam hal ini wanita harus mampu bersikap adil yakni menempatkan sesuatu pada tempat dan waktu yang tepat. Dengan demikian, pembentukan karakter yang khas pada wanita Indonesia masa kini haruslah merupakan perpaduan antara inner beauty dan keadilan. Dengan memiliki rasa keadilan, diharapkan setiap wanita akan mampu menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan sifat adil seorang wanita mampu memilah yang baik dan benar. Adil ini  merupakan sebuah sikap paling utama di bidang "budi pekerti luhur" seorang manusia, dan pasti dimiliki oleh mereka yang mau memelihara, mendengarkan, dan mau menaati "bisikan hati nuraninya", yang mana pada dasarnya itu semua adalah bimbingan Allah. Menaati bisikan hati nurani adalah sebuah cara bagaimana kita bisa mengembangkan sifat adil dan bijaksana, yang sesungguhnya sifat itu sudah ada tertanam di dalam diri setiap orang, jika kita menyadarinya. Tetapi jika mereka tidak mengindahkan bisikan hati nurani ini, ya pasti akan menemui kesulitan untuk bisa bersikap adil dan bijaksana ini. Wanita seperti inilah harusnya wanita Indonesia, wanita berkarakter adil dan memiliki pancaran inner beauty melalui senyumannya, inilah wanita Indonesia.


Daftar pustaka
Lee, Supardi. 2008. Keajaiban Senyum. (terhubung berkala). http://www.pengembangandiri.com/articles/36/1/Keajaiban-Senyum/Page1.html [20 April 2012].
Wuryantoro. 2012. Pengertian Karakter. (terhubung berkala). http://www.wuryantoro.com/2012/04/pengertian-karakter.html [20 April 2012].
Priyasta, Eka. 2011. Kaitan Senyuman dengan inner beauty. (terhubung berkala). http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2011/11/03/kaitan-senyuman-dengan-inner-beauty/ [20 April 2012].
Wuryanano. 2007. Mengembangkan Sikap Adil dan Bijaksana. http://wuryanano.blogspot.com/2007/11/mengembangkan-sifat-adil-dan-bijaksana.html/ [20 April 2012].

0 comments:

Post a Comment